"Jokowi" di Pilgub Bali

image

Oleh: Komang Suarsana

 

Tahun 2012 (dan sepertinya tahun 2013 juga) adalah Tahun Jokowi. Di akhir tahun 2012 wajah Gubernur DKI Jakarta itulah yang mendominasi berita-berita media massa seluruh Indonesia. Jokowi menjadi orang yang paling banyak dibicarakan di Indonesia. Jokowi dibicarakan justru karena kebaikannya, sifat positifnya dan menumbuhkan rasa cinta di hati banyak orang Indonesia. Belum lagi ciri khas baju kotak-kotak merah putih hitamnya.

Sukses figur Jokowi di Pilgub Jakarta diduplikasi oleh para calon kepala daerah di beberapa daerah di tanah air. Termasuk di Bali. Beberapa figur mengaku-ngaku ingin seperti Jokowi. Beberapa politisi malah sudah pajang foto berbaju Jokowi di baliho. Bahkan, ada figur yang berambisi jadi cagub-cawagub Bali juga berniat menerapkan jurus ala Jokowi untuk meraih kemenangan.

Tetapi, apa sebenarnya yang membuat jutaan orang jatuh hati pada figur Jokowi dan ingin menjiplak gaya mantan Walikota Solo itu? 

Karakter Jokowi

Berdasarkan pengamatan dan pandangan berbagai kalangan, ada delapan karakter yang membuat Jokowi begitu dicintai dan akhirnya dipilih sebagai pemimpin ideal. Kedelapan karakter itu adalah: rendah hati, tulus, sederhana dalam tingkah dan bicara, tidak pendendam, pekerja keras, komunikatif, taktis, dan pluralis.

Jokowi adalah sosok yang rendah hati. Ia terlihat tidak pernah bicara sinis, ia selalu membungkuk bila bertemu orang, ia menyalami siapa saja, dan ia menghormati siapapun. Jokowi tidak suka merendahkan orang lain. Ia selalu memuji tapi juga tegas. Tampaknya Jokowi menggunakan bahasa yang menyenangkan lawan bicaranya. Ia tidak merasa dirinya harus dilayani. Ia bahkan sering merasa harus melayani orang.

Sikap tulus seseorang dilihat dari cara bicara dan caranya bekerja. Biasanya orang tulus bekerja tanpa beban dan tidak direpotkan pada hal-hal yang artifisial. Orang tulus tidak pernah berpikir macam-macam. Kerja ya kerja. Tidak punya hidden agenda , trik-trik dan segala apapun yang membuat dirinya diuntungkan dan merugikan banyak orang. Karakter dasar tulus itu ada pada Jokowi. 

Itu terlihat dari cara ia bekerja untuk rakyat banyak. Hal paling menonjol adalah ketika ia tidak mengambil gajinya. Di saat pejabat Negara habis-habisa menggarong dana APBN atau APBD lewat proyek-proyek tender yang di-mark up , Jokowi tidak mengambil gajinya.

Karakter yang paling disukai dari Jokowi bagi jutaan rakyat Indonesia adalah sikapnya yang sederhana dalam tingkah dan bicara. Ia tidak berlebihan, ia tidak sok sok ngomong Inggris separuh-separuh. Tidak memakai baju yang amat mahal, ia pakai pakaian sederhana. Setiap tayang di televisi Jokowi hanya pakai baju putih, krem, atau kemaja sederhana. Saat kampanye, ia membuat branding dengan baju kotak-kotak berbahan murah. Sepatunya pun murahan.

Seorang Jokowi tidak pendendam. Ia tidak pernah membalas ucapan-ucapan yang merendahkan dirinya. Bahkan ia merasa setiap ucapan yang merendahkan adalah berkah Tuhan yang ‘harus’ ia terima saja. Mungkin publik masih banyak ingat tentang ucapan Gubernur Jawa Tengah saat ribut-ribut eks Gudang Es Sari Petodjo di Kota Solo yang mau dibangunken mall tapi Jokowi menolak, lalu Jokowi dibilang “Walikota Goblok” oleh Gubernur Jateng, Jokowi tidak membalas dengan ucapan pedas tapi dengan ucapan yang santai namun tak dimasukkan ke hati. Jokowi jalan terus dengan keyakinannya. Ia tidak mendendam tapi sekaligus tak plin plan.

Saat menjelang putaran kedua Pilgub DKI, Jokowi dijelek-jelekkan terus asal usulnya difitnah ini-itu, tuduhan yang tidak ada hubungannya dengan prestasi kerja, dan sebagainya terus dihembus-hembuskan untuk menyampaikan kebencian kepada kelompok yang belum menerima informasi siapa Jokowi. Jokowi tidak dendam, tidak membalas dengan cara jahat. Ia membalasnya dengan sikap diam saja. Ia sabar dalam menerima cobaan. Jokowi tak pernah menyimpan dendam, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan baru. Malah membalas dengan kebaikan. Buktinya setelah dimarah-marahi oleh boss-nya di Semarang, ia malah ke DKI dan menjadi walikota paling terkenal sepanjang sejarah Republik Indonesia. Tuhan sudah mengangkat derajatnya.

Karakter yang paling menonjol dari Jokowi adalah pekerja keras. Ia cepat mematerialkan sesuatu dari tidak ada jadi ada dengan kerja kerasnya, Selesaikan mulai dari inti persoalannya. Jokowi amat efektif soal waktu, ia sedari kecil harus menyelesaikan persoalan dengan cepat, karena setiap persoalan yang ditunda-tunda akan menghabiskan biaya dan energi, sementara ia tahu dirinya orang miskin, jadi harus irit, demikian juga soal kerja.

Jokowi tidak sekedar bekerja keras saja, tapi ia kerja cerdas. Pembagian kartu kesehatan adalah contoh bagaimana ia secara sederhana menerapkan kerja cerdas. Ia memotong jalur birokrasi dan kartu sehat pun jadi. Ia bekerja cepat, tanggap dan efisien, persoalan KTP yang berjangka waktu 2 minggu ia efektifkan jadi dua jam, gratis berarti disini Jokowi tidak melakukan intervensi pemerintah atas jam kerja masyarakat.

Jokowi rupanya sangat memahami ilmu komunikasi, dari sisi ini ketrampilannya yang terbesar adalah cara berdialog dan bernegosiasi. Kalau dilihat dari cara bahasanya, ia memang amat khas Solo. Cara bicaranya akrab tanpa batas kepada lawan bicaranya. Jokowi tidak mengasingkan dirinya seperti seorang bangsawan yang sakral ketika bicara dengan masyarakat yang dipimpinnya. Ia masuk ke dalam alam pemikiran rakyat.

Satu sikap yang disukai oleh masyarakat kepada Jokowi adalah kemampuannya dalam berpikir taktis. Di satu sisi ia bisa berpikir sosialis -- melakukan tindakan-tindakan kolektif dimana kekayaan negara bisa diarahkan untuk kesejahteraan rakyat banyak. Di sisi lain, Jokowi sangat taktis dalam berbisnis, ia amat berotak bisnis, dan otaknya untuk ini amat moncer.

Jokowi menunjukkan dirinya bukan orang yang pandai berteori, tapi orang yang langsung aplikatif. Ia beli baju yang bisa merumuskan dirinya pada posisi ingatan masyarakat, lalu baju ini dijual, ia tingkatkan partisipatif publik, ia tak perlu keluar banyak untuk kampanye karena kluster-kluster kampanye dengan sendirinya bergerak. Ia ajarkan masyarakat sebagai produsen politik, bukan konsumen politik. Jokowi juga orang yang amat pandai melihat masalah dan anatominya serta dengan cepat menyusun posisi.

Karakter pluralis atau berbhinneka Jokowi amat disukai jutaan orang Indonesia. Ia mengajarkan dalam ruang publik dan tata pemerintahan yang rasional tidak baik mengedepankan sentimen identitas seperti agama, suku dan status sosial tapi kedepankanlah prestasi. Kedepankanlah nilai-nilai kejujuran dan etika, serta membawa rasionalitas ke dalam tataran perjuangan politik sehingga rakyat diajari dalam memilih ukuran-ukuran rasional-lah yang dikedepankan bukan ukuran-ukuran kuasa Tuhan seperti agama, suku dan status sosial.

Pilgub Bali

Di Pilgub Bali, sepertinya akan terjadi pertarungan head to head: pasangan Mangku Pastika-Ketut Sudikerta (Pasti-Kerta) versus AA Puspayoga-Agus Suradnyana (PAS). Dengan asumsi tidak lagi muncul paket lain, pertarungan ini mengingatkan kita pada putaran kedua Pilgub DKI.

Paket Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) diusung 6 parpol yakni Partai Demokrat, PAN, PKB, PPP, Partai Golkar, dan PKS. Adapun pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) hanya didukung PDIP dan Gerindra. Jokowi-Ahok yang “dikeroyok”, akhirnya memenangkan pertarungan.

Pada Pilgub Bali, kemungkinan pasangan PAS juga akan “dikeroyok” parpol-parpol pendukung Pasti-Kerta. Tetapi, persoalan apakah PAS akan pasti menang seperti Jokowi-Ahok, tentu tidak akan serta merta seperti itu.

Karakter para kandidat pilgub Bali pasti tidak bisa menyamai karakter Jokowi yang nyaris lengkap, ideal, dan paripurna. Ada kandidat yang rendah hati, tapi tidak komunikatif. Ada yang sederhana dalam tingkah dan bicara, namun pendendam. Ada pula yang taktis dan komunikatif, tetapi selalu punya hidden agenda . Ada yang pekerja keras, namun lebih mementingkan kelompok dan tim suksesnya. Ada yang pekerja cerdas, tetapi suka bermewah-mewah dan tiba-tiba coba tampil pura-pura sederhana.

“Jokowi” mungkin bisa tampil di pilgub Bali, tapi tidak secara utuh merasuk ke karakter salah seorang kandidat. Di situ dibutuhkan kekompakan paket dan soliditas pendukungnya. Kalau dari fisik dan kecerdasannya, mungkin Mangku Pastika mirip Jokowi yang kurus. Melihat sifat pendiamnya, Puspayoga ada kemiripan. Maka, adalah tugas tandem masing-masing untuk mengisi dan melengkapi kekurangan masing-masing.

Kalau ada paket yang mampu mengkolaborasikan sifat-sifat unggul Jokowi, tentu rakyat Bali akan cenderung memilih paket itu. Bukan memilih paket yang merasa “teraniaya” karena dikeroyok atau paket yang kelewat pe-de (percaya diri) karena didukung banyak parpol. Rakyat Bali akan memilih yang memberi kesejahteraan bagi mereka. Bukan menjanjikan hal-hal yang bahkan tak terpikirkan oleh kandidatnya sendiri.

(*) Penulis, wartawan senior dan pemerhati masalah sosial kemasyarakatan

Mon, 14 Oct 2013 @22:04

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Biografi
image

Drh.Komang Suarsana, MMA.

081353114888


Jl.Patih Nambi Gg XII No.5, Ubung Kaja, Denpasar, Bali Indonesia
Copyright © 2022 Komang Suarsana · All Rights Reserved