Kepemimpinan : Wayang, Batman, dan Dokter Hewan

image

Oleh: Drh.Komang Suarsana, MMA

 Kepemimpinan didefinisikan sebagai proses pengaruh sosial dimana satu orang pemimpin dapat mendorong dan mengarahkan kelompok untuk mencapai dan mewujudkan tugas bersama. Alan Keith mengatakan bahwa leadership adalah bagaimana seseorang menciptakan cara/jalan agar orang lain dapat memberikan kontribusi untuk membuat sesuatu yang luar biasa dapat terwujud. Sedangkan Tom de Marco mendefinisikan kepemimpinan sebagai cara mengorganisasikan kelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Definisinya hampir seperti manajemen, padahal manajemen hanyalah satu sisi dari kepemimpinan.


A.    Kepemimpinan di Dunia Pewayangan

 

1.      Sifat-sifat Pandawa

  • Yudhistira/Dharmawangsa/Puntadewa : sabar, tak pernah marah, sehingga sering dijuluki berdarah putih, jarang berperang, tidak suka konflik.
  • Bima/Werkudara : kuat, tegas, kukuh pada pendirian, loyal terhadap keluarga, bangsa dan Negara.
  • Arjuna : halus, sangat sakti dan rupawan, dan gemar bertapa (belajar)
  • Nakula & Sahadewa : sakti dan berwibawa dan loyal kepada keluarga.

2.      Kepemimpinan Astabrata: delapan ajaran utama tentang kepemimpinan yang merupakan petunjuk Sri Rama kepada Bharata (adiknya) yang akan dinobatkan menjadi Raja Ayodhya. Asta Brata disimbulkan dengan sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin, yaitu :

  • Indra Brata : Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.
  • Yama Brata : Pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama, yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.
  • Surya Brata : Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti matahari (surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.
  • Candra Brata: Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.
  • Bayu Brata (Maruta) : Pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
  • Bhumi Brata (Danada) : Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi yaitu teguh, menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya.
  • Baruna Brata : Pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.
  • Agni Brata : Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.

      Delapan sifat mulia inilah yang seharusnya menjadi contoh atau panutan bagi seorang pemimpin untuk dapat menjadi pemimpin yang baik.

B.     Kepemimpinan di Jaman Kerajaan

Negara Kesatuan Republik Indonesia ditinjau tak terlepas dari pengaruh eksistensi kerajaan-kerajan besar pada masa lalu. Kerajaan-kerajaan besar tersebut tak terlepas dari nama-nama besar para pemimpinnya. Kerajaan Majapahit dengan Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Kerajaan Bali di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong. Atau, Kesultanan Ngayogyakarta dengan Sultan-nya merupakan beberapa contoh pemimpin dalam era-nya masing-masing.

Pemimpin pada masa itu terlahir dari sistem feodal yang hadir dari garis keturunan yang tertutup. Dengan filsafat Manunggaling Kawula Gusti , raja atau pemimpin dianggap titisan dari Tuhan yang akan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya dan berarti pengabdian yang tulus dari rakyat (Kawula) kepada raja (Gusti).

Apapun perintah dari seorang raja pada masa itu adalah anugerah yang mutlak harus dijalankan. Begitu juga hukum merupakan hukum yang bersumber dari dalam diri seorang raja. Berbagai permasalahan serasa mampu diselesaikan dalam lingkup istana.

Pada masa itu pemimpin merupakam penguasa yang merangkul berbagai aspek dalam kehidupan bermasyarakat.

C.    KEPEMIMPINAN dalam film “batman: The Dark Knight Rises”

Batman versi baru dari sutradara Christopher Nolan lengkap menjadi trilogi dengan rilisnya The Dark Knight Rises . Selain sukses secara komersial, Nolan membawa genre superhero ke arah yang jauh lebih berkualitas dengan dialog-dialog inspiratif. Percakapan-percakapan antar karakternya mengandung makna tentang filosofi kehidupan, salah satunya kepemimpinan.

1. “Masyarakat Gotham harus punya contoh 
nyata  dari ketidakpedulian mereka dan aku tidak bisa melakukannya sebagai Bruce wayne. Aku harus melakukannya sebagai sebuah simbol, yang akan terus dikenang.” Pelajaran yang bisa diambil adalah , sebuah organisasi dibangun oleh ide, bukan imej seseorang. raksasa.

2. “Apa yang kau lakukan merepresentasikan dirimu sesungguhnya”.  Hikmahnya, sebuah rencana bisa tidak berjalan sesuai dengan keinginan awal karena hilang kendali dan kurang perhatian.

3. “Kau telah mengidolakan seseorang yang salah. Biarkan aku beritahu Harvey Dent yang sebenarnya.” Di akhir The Dark Knight, Jaksa Wilayah Gotham Harvey Dent terlibat serangkaian pembunuhan. Ia bertransformasi menjadi jahat karena kematian Rachel Dawes, dibujuk untuk bertindak radikal oleh Joker, dan menyalahkan semuanya kepada Komisaris Polisi Jim Gordon. Pelajaran yang bisa diambil , apapun yang terjadi kepada organisasi/perusahaan, tetaplah terbuka kepada publik. jangan menutup-nutupi kekurangan atau kerugian.

4. “Kau tidak takut mati. Kau pikir itu membuatmu kuat. Justru itu membuatmu lemah. Karena dorongan kekuatan sebenarnya adalah ketakutan akan kematian.”  Pelajaran yang bisa diambil , jangan takut akan sesuatu bernama risiko. Mungkin ketika memulai sebuah usaha baru, wajar jika pengusaha memasang banyak pengaman agar usahanya survive.

5. “Dan kenapa kita jatuh, Bruce? Agar kita bisa belajar untuk bangkit.” Hikmahnya, seseorang yang sukses di dunia tidak terlepas dari kata gagal. Bagi mereka, gagal adalah hal biasa. Gagal adalah sesuatu yang harus dimakan bulat-bulat. Dari sebuah kegagalan, kita akan belajar bagaimana untuk tidak mengulangi kesalahan dan berbuat sesuatu yang lebih serta meraih sukses di kemudian hari.

 

D.    KEPEMIMPINAN MAHASISWA DALAM ORGANISASI

Organisasi kemahasiswaan memiliki karakteristik yang sama dengan organisasi pada umumnya. Hanya saja, organisasi kemahasiswaanmempunyai ciri-ciri suasana dinamika yang khusus yakni :


1. Pencirian idealisme,
2. Ketajaman berpikir,
3. Pembelajaran interelasi sosial,
4. Social responsibility yang tinggi,
5. Hubungan emosional yang kuat,
6. Transformasi personality ,
7. Ekspektasi cita-cita,
8. Kecintaan terhadap institusi,
9. Kerja sama tim.

 

Organisasi mahasiswa membutuhkan kepemimpinan kolegial yang kuat dan utuh dalam mewujudkan tujuan bersama . Kepemimpinan organisasi mahasiswa memiliki 6 (enam) misi pokok, yakni :

  • Menjembatani aspirasi mahasiswa terkait dengan kelancaran proses belajar mengajar.
  • Mengembangkan dan men-servant program minat dan bakat mahasiswa,
  • Mengembangkan karakter dan kapasitas diri mahasiswa,
  • Menciptakan suasana yang kondusif, kreatif, inovatif, dan produktif di kampus,
  • Memelihara sarana dan prasarana kampus,
  • Menjalankan peran serta dalam memecahkan persoalan masyarakat

Kepemimpinan organisasi mahasiswa membutuhkan pemimpin transformatif yang tidak saja handal dalam mengoptimalkan potensi yang dipimpinnya dan sumber daya organisasi yang tersedia, melainkan juga memiliki jiwa motivator yang baik saat yang lain dalam keadaan lemah. Pemimpin transformatif selalu mempedomani arah kebijakan (policy direction) yang telah ditetapkan organisasi. Dengan demikian ia mampu membawa individu-individu yang dipimpinnya ke tujuan bersama  yakni :

  • Keberhasilan studi dengan tepat waktu dan nilai yang baik,
  • Kepercayaan diri dalam memasuki pasar kerja,
  • Kemampuan bagaimana menciptakan (how to creat) pekerjaan,
  • Karakter diri dan berkepribadian yang kuat serta bermoralitas tinggi
  • Kebersamaan dalam setiap kegiatan organisasi,


Pelaku-pelaku organisasi menyadari keberadaan pedoman dan penuntun berupa prinsip-prinsip etika yang membatasi gerak bersikap dan bertindak. Adapun prinsip-prinsip etika berorganisasi adalah

  • Menjaga perasaan orang lain,
  • Memecahkan masalah dengan rendah hati,
  • Menghindari pemaksaan kehendak tetapi menghargai pendapat orang lain,
  • Mengutamakan proses dialogis dalam memecahkan masalah,
  • Menanggapi suatu masalah dengan cepat, dan sesuai dengan keahlian
  • Menyadari kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki 
  • Mengedepankan sikap jujur, disiplin, dan dapat dipercaya.

 

E.     TEORI KEPEMIMPINAN MODERN

Ada beberapa elemen Leadership yaitu:

  • Mengenali Potensi Diri (Konsep Diri/ Understanding self )
  • Komunikasi (Communication )
  • Kemampuan beradaptasi dengan orang lain (getting along with others )
  • Learning Skill (kemampuan memahami teknik belajar)
  • Managing (kemampuan mengelola)
  • Working with Group (bekerja sebagai bagian kelompok)
  • Decision Making (membuat keputusan)

  Ada beberapa teori yang merupakan pertumbuhan fase-fase teori kepemimpinan, yaitu:

  1. Trait Theory of Leadership , Thomas Carlyle dan Francis Galton mengatakan bahwa leadership was inherited leadership itu diturunkan, dia adalah warisan. Teori ini meyakini bahwa ada kualitas-kualitas tertentu yang membedakan seorang pemimpin dibanding orang lain, yang menyebabkan mereka pantas memimpin. Mereka yakin bahwa pemimpin melahirkan pemimpin. Ini hal wajar kalau melihar bahwa zaman ketika teori ini disampaikan adalah Zaman Kerajaan yang kepemimpinannya turun temurun.
  2. Behavioral and Style Theories , tokohnya Robert Blake dan John Mouton, menilai bahwa kepemimpinan dapat berbeda sesuai dengan bagaimana perilaku kepemimpinan itu ditunjukkan, ada yang keras, ada yang demokratis, ada yang sentralistis ada yang desentralistis.

Masyarakat yang berbeda membutuhkan Style dan gaya kepemimpinan yang berbeda, mereka membagi kepemimpinan pada tiga kelompok yaitu: Authoritarian -- memimpin dengan tangan besi dan sentralistis, tidak bisa dibantah dan top down. Ada juga kepemimpinan Democratic -- memimpin dengan mengandalkan suara terbanyak, musyawarah dan memperhatikan masukan-masukan, atau kepemimpinan Laissez Faire -- kepemimpinan dan membiarkan proses berjalan apa adanya, baru mengarahkan jika ada masalah yang timbul.

  1. Situasional and Contingency Theories , Herbert Spencer memandang ada kepemimpinan yang muncul karena kebetulan dan dibentuk keadaan. Situasi yang berbeda akan membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda. Dalam kondisi krisis kepemimpinan otoriter lebih dibutuhkan. Model kepemimpinannya ada yang Relationship-Oriented ada juga yang Task-Oriented . Robert House membagi 4 perilaku kepemimpinan yakni: Achievement Oriented, Directive, Participativve, dan Supportive .
  2. Functional Theory dalam teori ini yang penting adalah keefektifan kerja, ciri-cirinya adalah ...environmental monitoring; organizing subordinate activities; teaching and coaching subordinated; motivating others; intervencing actively in the group's work.
  3. Transactional and Transformational Theory ,

Pemimpin organisasi akan menjadi figur sentral dalam setiap denting suara
denyut jantung organisasi. Dengan demikian, pemimpin dinilai sebagai
inspirator yang diharapkan dapat membawa organisasi sebagai organisasi yang handal, memiliki kecakapan , diperhitungkan , dan patuh terhadap etika dan norma-norma kehidupan.

 

Mon, 14 Oct 2013 @22:23

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Biografi
image

Drh.Komang Suarsana, MMA.

081353114888


Jl.Patih Nambi Gg XII No.5, Ubung Kaja, Denpasar, Bali Indonesia
Copyright © 2022 Komang Suarsana · All Rights Reserved