"Bioteror" Ulat Bulu?

image

Oleh: Komang Suarsana

 

Pertahanan dan keamanan Bali akhirnya jebol juga oleh masuknya wabah ulat bulu. Beberapa waktu silam, kita masih hanya mendengar kasus itu hanya menyebar di Pulau Jawa – khususnya Jatim. Beberapa saat kemudian, ulat bulu sudah ”menyerang” Bali yang sedang gencar mengkampanyekan wilayah yang clean and green . Tentu ini tak bisa dianggap hal yang biasa-biasa saja.

Seperti halnya kasus wabah yang melanda Jawa, kasus yang akhirnya masuk ke Bali ini, tak hanya dipandang sebagai kasus wabah hama atau penyakit tanaman biasa. Bisa jadi ada dimensi lain yang layak kita cermati, bioteror, walaupun cukup dalam batasan yang ringan-ringan saja dulu sebelum kita benar-benar diteror oleh material biologis yang sebenarnya.

Ketika ada wabah penyakit Anthrax, rabies, flu burung, dan sebagainya, pihak tertentu mengait-ngaitkan masuknya wabah itu ke Indonesia dengan teori konspirasi. Bahwasanya ada pihak-pihak tertentu yang berkepentingan menghancurkan ketahanan pangan dan ekonomi Indonesia melalui bioteror atau serangan biologis.

Dunia mengenal ”bioterorisme” sebagai bentuk terorisme yang menggunakan virus atau bakteri sebagai ”bom” untuk meneror dan menghancurkan pihak yang ditarget.

Demikian halnya dengan ulat bulu. Makhluk berbulu ini telah terbukti merusak sejumlah tanaman mangga dan buah-buahan lain. Bahkan kini wabahnya menebar ke daerah tujuan wisata utama Indonesia yakni Bali. Tidakkah kondisi itu cukup mengkhawatirkan bagi ketahanan pangan dan pariwisata?

 

Fenomena alam

Bisa jadi, memang, asumsi kita tentang konspirasi dan bioterorisme itu masih terlalu dini dan perlu upaya investigasi lebih lanjut.

Pendapat peneliti Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Aunu Rauf, untuk sementara lebih tepat kita jadikan pegangan. Menurutnya, wabah ulat bulu yang menyerang ke bebererapa daerah di Pulau Jawa dan Bali merupakan fenomena alam.

Ulat itu berkembangbiak begitu hebat karena tidak ada musuh alamiahnya. Mungkin dalam Ilmu Biologi siklus rantai makanan sudah semakin berubah dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ledakan ulat bulu kali ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya pada 1936 pernah terjadi kasus serupa. Namun, spesies ulat bulu sekarang berbeda dari masa itu. Kemunculan ulat bulu merupakan fenomena ekologi karena lahan perkebunan mangga sangat rimbun sehingga tidak memiliki ventilasi memadai.

Pandangan perubahan iklim dan perubahan ekosistem bisa menjadi argumen yang ampuh. Kondisi ulat bulu hanyalah sepenggal potret bahwa ekosistem kini berubah drastis. Banyaknya hama tanaman pun tidak bisa diberantas dengan mengandalkan siklus rantai makanan. Kalau dulu kita selalu tahu, jika ada tikus, maka dia akan dimakan oleh ular, kemudian ular akan dimakan oleh burung dan seterusnya. Rupanya pelajaran ini sudah tidak klop lagi.

Bahkan para petani pun kini lebih mengandalkan obat-obatan kimiawi untuk memberantas hama itu. Insektisida salah satu yang menjadi pilihan utama. Ujung-ujungnya, makin banyak makanan berzat kimia yang dalam kadar tertentu bisa membahayakan tubuh manusia.

Kini, merebaknya hama ulat bulu sudah mencakup sebagian wilayah Bali. Penanganan dari dinas terkait dengan melakukan langkah penyemprotan antihama dan lainnya perlu digalakkan. Koordinasi ini membutuhkan saling pengertian antardaerah, antarprovinsi.

Berdasarkan penelitian Kementerian Pertanian, hama ulat bulu yang menyerang pohon mangga di Pulau Jawa, ternyata merupakan jenis spesies baru. Tanpa tindakan pembasmian secepatnya, wabah ulat bulu akan semakin mengganas karena kupu-kupu ngengat hasil metamorfosis ulat segera bertelur.
Belum pernah ada catatan ilmiah tentang ulat bulu tersebut.

Dalam dunia konservasi biologi, ulat yang belum mempunyai rekaman ilmiah disebut jenis alien .  Jenis itu bisa merupakan perkawinan dua jenis ulat bulu atau memang ulat jenis lama yang belum pernah ada dokumentasi ilmiahnya.

Kesimpulan sementara, ulat itu bermigrasi dari hutan sekitar Gunung Bromo. Migrasi terjadi karena ketidakseimbangan ekosistem akibat letusan Bromo sejak akhir tahun lalu yang sampai hari ini belum reda. Makanan mereka di hutan Bromo rusak, predatornya yang merupakan musuh ulat juga habis.

Hasil survei tim hama Universitas Gadjah Mada memberi prediksi wabah ulat bulu masih akan terus meluas karena ulat sudah memasuki fase kepompong akhir Maret lalu. Setelah kepompong terbentuk maka akan muncul kupu-kupu ngengat dalam jumlah banyak dan diikuti peletakan telur dari ngengat-ngengat itu, kemudian menjadi ulat bulu kembali yang jumlahnya semakin banyak.

Setiap ngengat betina mampu menghasilkan 300 butir telur yang bisa menetas dalam waktu cepat. Maka, jika tidak ada tindakan pencegahan secara serentak, pada akhir April jumlah ulat bulu yang menyerang wilayah itu akan semakin banyak dan serangan semakin meluas.

Peneliti pada Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM melihat, wabah ulat bulu ini memiliki ciri yang sama dengan sejumlah wabah seperti hama lamtorogung dan hama pada tanaman jeruk. Kejadian tersebut dipicu oleh rusaknya jaringan rantai makanan dan sistem pertanian monokultur. Tumbuhan inang ulat bulu adalah mangga yang banyak dibudidayakan masyarakat.

Diyakni juga wabah ini sangat mungkin meluas karena tingginya kemampuan adaptasi ulat yang berasal dari spesies Arctomis sp dan Lymantaria atemeles collenette itu. Larva ulat bulu dapat bertahan hingga akhirnya menemukan tanaman inang yang tepat.

 

Bioteror?

Ketika wabah ulat bulu kian mengganas, mungkin anggapan tentang adanya bioteror juga tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Kalau kita ingat kasus flu burung, maka bisa jadi masalah ulat pun bisa dijadikan lahan bisnis. Jika flu burung menjadi ladang bisnis negara maju untuk menjual Tamiflu atau obat antiflu burung, maka mungkin saja ulat bulu sengaja dikembangbiakan sedemikian rupa agar ada obat antiulat bulu yang dijual.

Akan tetapi, lagi-lagi, pikiran tentang adanya bioteror masih harus dilakukan kajian mendalam dan tidak gegabah melarikan isu itu ke sana. Belum bisa dibuktikan adanya dugaan jika wabah ulat bulu tersebut merupakan bagian dari bioteror atau serangan biologis. Fenomena tersebut telah lama ada – bahka konon berlangsung setiap tahun -- tetapi tiarap terus dan sekarang muncul karena dulu dikekang. Serangan ulat bulu terjadi karena curah hujan cukup panjang yang membuat musuh alaminya hilang.

Tak perlu jauh-jauh berpikir soal bioteror, yang dibutuhkan cuma langkah kongkret untuk mengatasinya.

Melihat fenomena ulat bulu dan juga hama-hama tanaman lainnya, sudah sepantasnya dilakukan langkah kongkret dan terpadu untuk menanggulanginya. Bagaimanapun hama yang begitu massal akan makin mengganggu kehidupan warga. Petani dirugikan karena tanamannya hancur. Warga lainnya pun makin gelisah karena hama itu menebar hingga ke perkampungan dan perumahan. Belum lagi jika ada penyakit bawaan akibat dari banyaknya hama itu.

Menanggulangi wabah ulat bulu jenis baru tidak mudah. Bila memakai insektisida, ada kemungkinan wabah ulat bisa teratasi atau sebaliknya justru semakin mengganas karena ulat kebal terhadap pestisida.

Sampai saat ini, tim peneliti Kementerian Pertanian masih belum bisa menentukan cara ampuh mengatasi wabah ulat bulu. Hal yang pasti, satu-satunya cara memutus rantai produksi ulat bulu tersebut adalah memotong tahapan metamorfosis ulat.

Pembasmian telah dilakukan dengan berbagai macam cara. Dari penyemprotan insektisida hingga mendatangkan musuh alami ulat bulu. Ternyata, ulat bulu itu lebih takut dengan sinar matahari. Ulat bulu spesies baru itu akan jatuh dan mati jika terkena sinar matahari.

Selain sinar matahari, ulat bulu sebenarnya bisa mati oleh parasit seperti jamur metarizium, vertisilium, dan beauveria . Namun, karena ulat bulu ini spesies baru, dibutuhkan pula parasit jenis baru. Tiga jenis parasit tadi, baru terbukti selalu siap untuk membasmi wereng dan batang cokelat. Tapi, untuk ulat bulu spesies baru ini masih harus dicarikan parasit yang cocok.

Peneliti UGM menyarankan, yang dapat dilakukan untuk mencegah meluasnya wabah tersebut dengan melakukan pengendalian hama terpadu, yakni memberdayakan musuh alami ulat bulu yakni parasitoid larva pupa dan parasitoid larva .

Semoga segera bisa ditemukan jurus paling ampuh untuk mengatasi hama ulat bulu ini. Semoga dengan berjalan waktu dan proses metamorfosis dari ulat ke kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu segera terjadi. Sehingga berbagai daerah yang sebelumnya diteror rasa ngeri karena banyaknya ulat bulu akan berubah menjadi daerah yang indah karena banyaknya kupu-kupu beraneka warna. (*)

 

Sat, 19 Oct 2013 @18:21

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Biografi
image

Drh.Komang Suarsana, MMA.

081353114888


Jl.Patih Nambi Gg XII No.5, Ubung Kaja, Denpasar, Bali Indonesia
Copyright © 2022 Komang Suarsana · All Rights Reserved