Hindu dan Solidaritas Umat

image

 

Copied by:

Komang Suarsana

 

Mengembangkan rasa militansi dan solidaritas di antara umat Hindu secara berkelanjutan dapat diawali dengan pembangunan dialektika di berbagai lapisan masyarakat umat Hindu. Dengan demikian dapat saling memahami kondisi umat Hindu dan dapat menciptakan kesetaraan, saling asah, asuh, dan asih. Hubungan koneksitas antara umat Hindu di tingkat lokal, nasional, dan internasional perlu dilakukan sebagai wujud tanggung jawab membangun solidaritas bersama yang kuat.        

Umat Hindu tersebar di hampir sebagian besar wilayah Indonesia dengan jumlah kecil, kecuali di Bali agama Hindu dianut oleh mayoritas penduduk Bali. Oleh karena itu Bali dijadikan barometer perkembangan umat Hindu di Indonesia, Ini berarti berbicara agama Hindu di Indonesia tidak bisa terlepas dari perkembangan umat Hindu di Bali dengan budaya dan tradisinya yang merupakan satu kesatuan dengan agama Hindu yang dianut oleh mayoritas orang Bali. Umat Hindu di Indonesia kurang berkembang dipandang dari aspek kehidupan masyarakat yang ada di Indonesia. Di beberapa daerah di Indonesia umat Hindu termarjinalisasi dari kehidupan ekonomi, politik, dan pengembangan keagamaannya. Seperti di daerah Tengger, Jawa Timur dan umat Hindu Kaharingan di Kalimantan, dan di beberapa daerah yang ada komunitas umat Hindunya, termasuk pada sebagian umat Hindu di Bali.

        Kondisi umat Hindu tersebut dikarenakan kelemahan dari individu dan komunitas umat Hindu secara umum di Indonesia. Hal ini dilatar belakangi oleh lemahnya SDM, organisasi, dan kondisi ekonomi secara individu maupun kelompok/organisasi umat Hindu yang ada. Di samping belum terbangunnya militansi Hindu dan kurangnya solidaritas untuk mengembangkan umat Hindu yang cerdas dan tangguh. Yang terjadi dewasa ini merupakan kebalikan dari cita-cita ideal membangun solidaritas bersama umat Hindu. Karena umat Hindu masih terjebak pada konflik di antara umat Hindu sendiri, terutama di Bali yang menyangkut pemahaman agama, adat, kasta, dan organisasi Hindu.

        Yang menjadi pertanyaan, apakah memang solidaritas sudah terbangun atau yang muncul justru apatisme terhadap masalah keumatan. Jika apatisme terhadap masalah keumatan dan dinamika agama Hindu lebih dominan, lambat laun umat Hindu akan tertinggal dari umat lain di Indonesia dalam segala hal.

        Menggugah solidaritas bersama bagi umat Hindu merupakan sesuatu sangat urgen, melihat umat Hindu makin dihadapkan pada dunia global dan terhimpit oleh dinamika kultural, agama, ekonomi, struktur politik dan budaya masyarakat Indonesia yang agamis yang terbangun sedemikian rupa. Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut mulai dirasakan, oleh karena itu perlu dibangun militansi, komitmen, atau kesetiaan sebagai wujud solidaritas umat Hindu, tanpa mengarah kepada hal yang bersifat chauvinis.

        Menggugah solidaritas umat Hindu, diawali dengan perubahan paradigma, yang tidak hanya mengedepankan hal yang sifatnya teologis. Tetapi bagaimana memerankan hubungan antara umat Hindu yang lebih harmonis dan dialektis dengan menghilangkan rasa iri dan dengki di antara umat Hindu. Konsep Tri Hita Karana cukup ideal membangun nilai-nilai Hindu sebagai fundamen untuk melakukan sikap militansi yang benar bagi perkembangan umat Hindu di masa datang.

Masalah Kultural

        Sumber Daya Manusia yang terbatas selalu dijadikan alasan kelemahan umat Hindu dalam bersang di berbagai bidang seperti dunia usaha, pendidikan, dan dalam meraih jabatan-jabatan politik di pemerintahan. Alasan sumber daya manusia yang terbatas merupakan hal klasik yang tidak kunjung tuntas dicarikan solusinya. Konsep peningkatan kualitas SDM Hindu masih sebatas dalam wacana publik yang sama sekali belum terimplementasikan bagi kepentingan umat Hindu di masa datang.

        Peningkatan SDM akan berkaitan dengan kualitas pendidikan baik formal maupun informal bagi umat Hindu, utamanya di kalangan generasi muda. Organisasi-organisasi Hindu yang ada seperti Parisada, Yayasan Hindu Dharma, Peradah, Pemuda Hindu, KMHDI, organisasi kepemudaan tradisional seperti Sekaa Teruna di Bali belum terkoordinasi, terkonsolidasi, dan belum memiliki akar yang kuat di kalangan umat Hindu. Di samping juga tidak sinergis antara satu dengan yang lainnya dalam membuat konsep membangun kelembagaan umat Hindu yang kuat. Di antara organisasi Hindu yang ada, justru cenderung saling melemahkan, di samping adanya dualisme Parisada Bali. Kondisi organisasi umat Hindu yang demikian memang sangat ironis dan menyedihkan.

        Faktor ekonomi yang tidak mendukung perkembangan umat Hindu menimbulkan dilema tersendiri, karena tanpa dukungan dana yang memadai mustahil potensi-potensi yang dimiliki umat Hindu dapat terwujudkan. Sementara Pusat Kajian Hindu dan Lembaga Pendidikan Hindu yang ada belum dapat berkembang dan bersaing dengan lembaga-lembaga umat lainnya karena lemahnya dukungan dana, baik dari sumber dana individu maupun dari lembaga yang dimiliki umat Hindu.

        Eksistensi di antara individu dan kelompok masyarakat Hindu juga merupakan masalah yang cukup mendasar memunculkan pendikotomian di antara umat Hindu. Masalah eksistensi tersebut cukup mengemuka di masyarakat Hindu Bali yang dianggap manifestasi umat Hindu di Indonesia. Eksistensi pada kelompok kecil masyarakat di Bali merupakan masalah yang sangat kultural, menyangkut kasta, status dalam masyarakat, kedudukan politik dan jabatan birokratis pemerintah, selain status ekonomi.

        Kondisi masyarakat Hindu yang demikian menimbulkan interpretasi bahwa orang Bali yang beragama Hindu hanya mampu bersaing di internal umat Hindu sendiri, di samping anggapan bahwa orang Bali yang mayoritas Hindu cukup toleran terhadap umat lain namun bertikai di antara umat Hindu sendiri.

        Masalah tersebut sesegera mungkin harus dicarikan jalan keluar, jika tidak umat Hindu akan digilas oleh perubahan peradaban di era kesejagatan ini.

Membangun Solidaritas

        Mengembangkan rasa militansi dan solidaritas di antara umat Hindu secara berkelanjutan dapat diawali dengan pembangunan dialektika di berbagai lapisan masyarakat umat Hindu. Dengan demikian dapat saling memahami kondisi umat Hindu dan dapat menciptakan kesetaraan, saling asah, asuh, dan asih. Hubungan koneksitas antara umat Hindu di tingkat lokal, nasional, dan internasional perlu dilakukan sebagai wujud tanggung jawab membangun solidaritas bersama yang kuat.

        Solidaritas adalah kebersamaan dan kerja sama antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Dari pengertian solidaritas bahwa hubungan satu dengan lainnya dapat tercipta apabila adanya pemahaman yang sama terhadap visi dan misi solidaritas yang akan diinginkan, walaupun dengan gerakan berbeda. Gerakan individu dan kelompok umat Hindu yang berbeda harus didasarkan pada pemahaman terhadap Hindu sebagai agama, budaya, dan ilmu pengetahuan, agar umat Hindu dapat bersaing di era global ini.

        Pergerakan Hindu pada masa datang tidak cukup dengan kekuatan batin saja, karena kekuatan batin untuk mendukung kekuatan organisasi. Seperti yang pernah dilakukan Mahatma Gandhi di India, walaupun Gandhi memiliki kekuatan batin sepuluh kali lipat dari yang di milikinya pada saat itu, tidak akan berarti apa-apa jika tidak didukung oleh Partai Kongres India yang jumlahnya ribuan, dalam mewujudkan gerakan politik untuk melawan Kolonialisme Inggris.

        Jika kekuatan batin tidak untuk memperkuat organisasi, maka kekuatan batin tidak menghasilkan apa-apa untuk perjuangan umat Hindu di masa datang. Dari pengalaman di India tersebut, sangat diperlukan membangun organisasi yang kuat. Kekuatan organisasi hanya dapat dilawan juga dengan kekuatan organisasi. Untuk membangun kekuatan organisasi Hindu diperlukan gerakan politik yang didukung oleh senergi dan solidaritas antar organisasi Hindu yang ada. Tujuannya, guna mencapai organisasi Hindu yang ideal sebagai alat perjuangan umat Hindu di masa kini dan mendatang. Karena menggunakan organisasi sebagai gerakan politik untuk kepentingan umat Hindu dapat dibenarkan dalam ajaran Hindu, yang secara substansial terdapat dalam ajaran Nitisastra.

        Nitisastra atau Arthasastra berarti ilmu politik atau pemerintahan. Namun pengertian Nitisastra tersebut dibantah oleh Dr. Rajendra Mishra karena dalam pengertiannya Nitisastra memiliki pengertian pendidikan moral, dan dibedakan dengan pengertian Raja Niti yang berarti ilmu politik dan pemerintahan. Niti memiliki arti mendidik, memimpin, membimbing. Beberapa intelektual lain juga menerjemahkan ajaran Niti dengan berbagai pemahamannya.

        Nitisastra secara substansial merupakan ajaran menuju kesejahteraan dalam pandangan Hindu, dan di era modern ini diartikan sebagai ilmu politik dan pemerintahan, sosial ekonomi, dan budaya. Apabila umat Hindu dapat memahami ajaran Niti dan dijadikan acuan umat Hindu dalam berpolitik, membangun basis ekonomi, dan mendalami nilai-nilai agama dan budaya, niscaya impian membangun solidaritas keumatan dapat terwujud.

Sat, 19 Oct 2013 @20:55

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Biografi
image

Drh.Komang Suarsana, MMA.

081353114888


Jl.Patih Nambi Gg XII No.5, Ubung Kaja, Denpasar, Bali Indonesia
Copyright © 2022 Komang Suarsana · All Rights Reserved