Bali Mandara: Bernafaskan THK, Berbuah WTP

image

Bali Mandara: Bernafaskan THK, Berbuah WTP

 

SeIRING peringatan HUT ke-56 Pemerintah Provinsi Bali di tahun 2014 ini, suara-suara miring tentang kinerja Pemprov masih saja dilontarkan segelintir pihak. Itu sah-sah saja. Namun, ketika berbagai program berhasil diimplementasikan untuk kepentingan masyarakat luas dengan bendera mengusung bendera “Bali Mandara”, dan berhasil, mestinya pihak-pihak itu juga lebih objektif menyikapi realita yang ada.

Program-program Bali Mandara pada dasarnya adalah program yang terpadu, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan secara sinergis. Untuk dapat merealisasikannya sangat dibutuhkan komitmen, kesungguhan, kerja keras, ketegasan, dan disertai kerjasama seluruh komponen masyarakat Bali, jajaran Pemerintah Daerah, maupun pihak swasta. Pasalnya, program Bali Mandara pada hakikatnya adalah program pembangunan berkelanjutan, berkeadilan, partisipatif, dan merata bagi seluruh masyarakat Bali yang tersebar di sembilan kabupaten/kota se-Bali, sebagai bagian integral dari pembangunan nasonal

 

Bernafaskan THK 

Konsep Tri Hita Karana (THK) menjadi “nafas”, “jiwa” dan “roh” Program Bali Mandara yang mencakup hampir keseluruhan hajat hidup masyarakat Bali. Betapa tidak, tanpa “nafas” THK, Program Bali Mandara tidak mampu bergerak menyentuh relung-relung hati nurani masyarakat.

Bali Mandara adalah Bali yang besar, Bali yang agung, Bali yang suci, The Great Bali .  Mandara  adalah juga akronim dari Maju, Aman, Damai, dan Sejahtera. Kondisi ini adalah gambaran dari sebuah harmoni yang melambangkan keagungan.

Bali Maju  adalah Bali yang dinamis, Bali yang terus bergerak menurut dinamika pergerakan dan perkembangan dunia. Bali yang senatiasa bergerak dan maju dengan tetap menjunjung kesucian dan keikhlasan demi tegaknya dharma . Bali yang maju adalah Bali yang harus tetap “metaksu ”, yang senantiasa meningkatkan kualitas dirinya sebagai daerah tujuan wisata yang handal, berkharisma dan religius. Bali yang maju adalah Bali yang modern menurut ukuran dan tuntutan nilai-nilai universal yang tidak menyimpang dan/atau bertentangan dengan nilai-nilai agama Hindu (Bali) serta adat istiadat Bali. Kemodernan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan peradaban sebagai masyarakat yang berada di perkampungan dunia yang terbuka.

Bali Aman  adalah Bali yang “dabdab ” teratur sekala-niskala . Bali yang memiliki keseimbangan antara korelasi kebutuhan hubungan antar manusia dengan manusia lainnya, hubungan manusia dengan alam lingkungannya, serta hubungan manusia dengan Tuhan-nya sejalan dengan konsep Tri Hita Karana . Bali yang aman adalah Bali yang terhindar dari ancaman intervensi virus-virus ideologi yang bertentangan dengan Tri Hita Karana,  seperti: terorisme, anarkhisme, dan virus non-traditional threat  lainnya yang mewarnai zaman Kali .

Bali Damai  adalah Bali yang diselimuti atmosfir kesejukan lahir bathin, serta selalu dalam kondisi “tis ” dan kondusif. Bali Damai adalah Bali yang menggambarkan adanya komunitas masyarakat Bali, baik di perkotaan maupun pelosok perdesaan yang kental dengan suasana “briyag-briyug, pakedek pakenyem ”. Hal tersebut sebagai indikator optimisme masyarakat dalam menatap masa depan yang menjanjikan.

Bali Sejahtera  adalah Bali yang Sukerta Sekala Niskala , sebagai akumulasi diperolehnya kemajuan, keamanan, dan kedamaian.

Program Bali Mandara yang menyentuh 12 bidang kehidupan masyarakat merupakan langkah nyata mewujudkan misi mencapai visi Pemprov Bali dalam 5 tahun ke depan, yang menggambarkan penanganan permasalahan sosial masyarakat Bali secara komprehensif dan holistik, serta berkelanjutan dan berorientasi demi kemajuan Bali ke depan.

Sering dihujani oleh kritik segelintir pihak, Program Bali Mandara – yang berpijak pada 5 (lima) pilar yaitu pro-growth, pro-poor, pro-job, pro-environment, dan pro-culture – melenggang dengan berbagai keberhasilan akibat efektivitas pelaksanannya.

Sebagai contoh kemajuan realisasi program, sampai akhir tahun 2013 telah dibentuk 325 unit Simantri di 325 desa. Pada tahun 2014 ini akan dibentuk 100 unit. Program Gerbangsadu sebagai program pemberdayaan ekonomi perdesaan-- dengan bantuan sebesar Rp 1 milyar, yang diperuntukkan bagi desa yang memiliki penduduk miskin di atas 35% -- pada tahun 2013 sudah menyasar 82 desa, atau seluruh desa sasaran. Sementara pada tahun 2014 dialokasikan menyasar 50 desa. Angka kemiskinan masyarakat Bali dalam lima tahun terakhir menurun cepat, dan saat ini 3,95%.

 

 

Berbuah WTP

 

Diakui atau tidak, efektivitas Program Bali Mandara yang langsung menyentuh kebutuhan paling hakiki masyarakat Bali mampu mengantarkan Pemprov Bali meraih sukses dan membersihkan kesan “tidak wajar” dalam opini otoritas pngawasan.

Pemprov bali yang mengimplementasikan dan melaksanakan Program Bali Mandara akhirnya meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2013. WTP merupakan opini terbaik atas penilaian LKPD oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

Menjadi istimewa karena Laporan Hasil Pemeriksaan diserahkan langsung oleh Ketua BPK RI Dr.H.Rizal dalam  Sidang Paripurna Istimewa DPRD Bali, pada tanggal 6 Mei 2014. Bali berhasil ‘naik kelas’ setelah selama empat tahun berturut-turut bertahan dengan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP).

Ketua BPK H.Rizal menegaskan, keberhasilan Bali meraih WTP tak hanya terukur dari sajian laporan keuangan yang telah memenuhi standar, namun juga dari manfaat hasil-hasil pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat. Data makro menggambarkan, Bali berhasil melampaui rata-rata nasional sejumlah kategori di antaranya  Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.

Secara umum, H.Rizal memberi gambaran hasil pemeriksaan LKPD Bali Tahun 2013 yang dilakukan selama dua bulan. Pada tahun anggaran tersebut, pendapatan Bali mencapai Rp. 4,1 trilyun dan belanja Rp. 3,8 trilyun. Anggaran belanja antara lain dimanfaatkan untuk mendanai program pembangunan sebesar Rp. 2,7 trilyun atau mencapai 70 persen, belanja modal Rp. 454 milyar atau 11,75 persen dan tak terduga sebesar Rp. 1,58 milyar. Komposisi anggaran tersebut menunjukkan besarnya komitmen Pemprov Bali dalam menggenjot program pembangunan yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat.

Pelaksanaan berbagai program menunjukkan manfaat dan hasil signifikan dan berhasil melampaui rata-rata nasional. IPM Bali mencapai 73,49 persen, melampaui rata-rata nasional sebesar 72,77 persen. Bali juga mencatat prestasi dari rendahnya tingkat pengangguran yang hanya sebesar 1,3 persen, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 6,25 persen. Lebih dari itu, angka kemiskinan Bali sebesar 4,4 persen juga jauh di bawah rata-rata nasional yang masih berada di kisaran 11,47 persen.

Data-data makro tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Bali telah menikmati hasil program pembangunan yang dilaksanakan Pemprov Bali dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Lalu, ketika muncul kritik dan hujatan yang bersumber dari satu-dua permasalahan dari sekian banyak capaian yang diraih Program Bali Mandara , tentu Pemprov Bali juga tidak menutup mata.

Segala permasalahan dan tantangan yang masih terus menghadang akan dihadapi dan diatasi dengan terobosan-terobosan yang lebih menyentuh obyek dan target dari implementasi program Bali Mandara itu sendiri. Tentu, untuk itu dibutuhkan kearifan, dukungan, dan kerjasama semua pihak. (*)

 

Mon, 3 Nov 2014 @23:19

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Biografi
image

Drh.Komang Suarsana, MMA.

081353114888


Jl.Patih Nambi Gg XII No.5, Ubung Kaja, Denpasar, Bali Indonesia
Copyright © 2022 Komang Suarsana · All Rights Reserved