Pariwisata Berkualitas, Pariwisata Jual Mahal?

image

Oleh: Komang Suarsana

 

DINAMIKA perkembangan kepariwisataan Bali terus-menerus menjadi wacana di tengah masyarakat. Baik masyarakat pariwisata yang meraup rejeki dari sektor tersebut maupun masyarakat yang dituding menjadi “korban” pengembangan pariwisata itu sendiri.

 

Kalangan tertentu berpendapat, menghadapi pasar global, pembangunan kepariwisataan Bali hendaknya terseleksi lebih menekankan pada pariwisata yang dijual mahal dengan orientasi kualitas. Bukan diobral atau dijual murah dengan oientasi kuantitas. Benarkah?

 

Wisatawan berkualitas, sejatinya bukan hanya identik dengan wisatawan yang berkantong tebal. wisatawan berkualitas adalah wisatawan yang memiliki kepedulian dan apresiasi positif terhadap budaya, lingkungan dan manusia Bali itu sendiri.

 

Untuk menjaring wisatawan berkualitas, maka produk pariwisata Bali pun harus berkualitas. Artinya, selain memberikan layanan yang prima, juga memiliki lingkungan yang berkualitas, seperti makanan yang disajikan adalah makanan organik atau lingkungan desanya yang tidak tercemar.

 

Dengan kata lain, seluruh komponen pariwisata di Bali wajib berkualitas, baik manusia dan lingkungan alam serta spirit Bali itu sendiri. Baru selanjutnya pelaku pariwisata Bali menggaet wisatawan berkualitas.

 

Bagaimana mungkin kita menjaring wisatawan berkualitas, namun air sungai, pantai dan laut serta udara Bali yang tercemar. Jangan sampai penggarapan wisatawan berkualitas menjadi bumerang, karena mereka tidak mendapatkan pelayanan dan prasarana pariwisata yang prima di Bali.

 

Program-program Pemprov Bali, Bali Mandara, baik jilid I maupun jilid II, seluruhnya mengacu pada peningkatan mutu manusia Bali yaitu membentuk spirit, lingkungan dan manusia Bali yang berkualitas.

 

Menurut Jourard (1980), manusia berkualitas adalah manusia sehat yang memiliki ciri: (a) membuka diri untuk menerima gagasan orang lain; (b) peduli terhadap dirinya, sesamanya serta lingkungannya; (c) kreatif; (d) mampu bekerja yang memberikan hasil (produktif).

 

Empat ciri manusia berkualitas di atas mirip dengan apa yang ada di Bali. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan program-program Bali bebas sampah plastik; Bali pulau organik; Bali bebas Rabies dan sebagainya. Dengan demikian, krama Bali yang sekaligus sebagai stakeholder pariwisata diyakini akan mampu mendatangkan wisatawan berkualitas ke Bali.

 

Yang datang ke Bali tidak hanya mass-tourism (wisatawan massal). Kita harus mampu mengubah paradigma lama, pariwisata yang lebih mengutamakan pariwisata massal, yaitu yang bercirikan jumlah wisatawan yang besar atau berkelompok dan paket wisata yang seragam (Faulkner, 1997), dan sekarang telah bergerak menjadi pariwisata baru, (Baldwin dan Brodess, 1993),  yaitu wisatawan yang lebih canggih, berpengalaman dan mandiri, yang bertujuan tinggal mencari liburan fleksibel, keragaman dan minat khusus pada lingkungan alam dan pengalaman asli.

 

Pariwisata massal sering diidentikkan dengan wisatawan yang hanya mencari harga murah, sehingga Bali pun dihargai murah.

 

Agrowisata dan wisata spiritual

 

Bali tidak hanya kaya dengan sumber daya wisata seperti aset alam, budaya, flora dan fauna, namun pulau Bali telah memiliki sejarah panjang sebagai daerah tujuan wisata (DTW) dunia. Buktinya, sejak awal Abad ke-19, banyak sekali terbit buku-buku tentang Bali hasil karya para peneliti dari berbagai penjuru dunia, artis-seniman, antropolog, sejarawan dan sebagainya. Mereka menulis Bali dari berbagai sudut pandang. Dan, semuanya sepakat dengan memberikan julukan Bali sebagai pulau Sorga atau Nirwana Dunia.

 

Kondisi itu sedikit berubah di akhir Abad ke-20 ini. Bahkan tak sedikit penerbitan asing (koran dan televisi) yang memberi julukan baru bagi pulau Bali, seperti The Lost Paradise (sorga yang hilang), meski ada juga yang memuji Bali sebagai Pulau Damai (peace island ) atau pulau cinta (setelah ditayangkannya film Eat Pray and Love ).

 

Apapun yang terjadi dengan Bali, kita harus pencaya bahwa Bali adalah Bali. Program pembangunan Bali yang berkualitas harus terus berjalan dan dikembangkan. Salah satu program pembangunan yang paling gencar dikembangkan adalah sektor pertanian organik lewat program Simantri (sistem pertanian terintegraasi). Ternyata program ini dapat dikembangkan lagi menjadi program agrowisata.

 

Agrowisata sebagai pariwisata alternatif yang oleh Eadington dan Smith (1995) diartikan sebagai konsisten dengan nilai-nilai alam, sosial dan masyarakat yang memungkinkan adanya interaksi positif diantara para pelakunya.

 

Agrowisata sebagai pariwisata alternatif yang sekaligus menjadi solusi masif bagi pengentasan kemiskinan. Agrowisata menganut falsafah ekowisata. Maka, sangat beralasan, agrowisata dikatakan jalan terbaik untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas.

 

Selain agrowisata, Bali juga bisa mengembangkan spiritual tourism . Wisata spiritual sangat dibutuhkan dan akan berkembang dengan pesat dalam beberapa waktu ke depan, dimana manusia di seluruh dunia akan memenuhi kehausan dan mencari kebahagiaan lewat spiritualitas.

 

Tren ini semakin terlihat jelas dan tidak akan terbendung lagi. Setiap tahunnya jutaan manusia akan berkunjung ke tempat-tempat dimana mereka dapat menemukan makna kehidupan, tempat yang dapat menjawab berbagai pertanyaan dalam diri untuk menemukan sumber kebahagiaan dan kepuasan bathin. Dan, Bali memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan wisata spiritual. Bali diyakini sebagai satu-satunya pewaris dari budaya Nusantara yang masih hidup dan berkembang.

 

 

Wisatawan Berkualitas

 

Wisatawan berkualitas sudah barang tentu menginginkan suatu layanan yang prima. Mereka akan mencari dan menginap di kamar hotel bintang 5 yang ditawarkan dengan harga mulai US$ 200-600 per malam.

 

Mereka yang datang dan menginap di hotel bintang 5, ternyata banyak juga dari kalangan wisdom (asal Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, dan sebagainya). Oleh sebab itu untuk membangun Bali sebagai daerah tujuan wisata yang berkualitas, terlebih dahulu harus membangun krama dan lingkungan Pulau Bali yang berkualitas.

 

Ke depan, pelaku pariwisata Bali berharap pengertian wisatawan berkualitas mengikuti tren pariwisata dunia. Pengertian wisatawan berkualitas di Bali sudah mengalami perubahan.

 

Arti wisatawan berkualitas tidak hanya kaya, melainkan wajib juga menghargai budaya dan lingkungan di Bali. Wisatawan berkualitas dekat dengan masyarakat berinteraksi secara kultural, kepedulian sosial tinggi kepada masyarakat di Bali.

 

Wisatawan berkualitas ini bisa berinteraksi positif dengan pemilik pondok wisata.  Apabila di sekitar pondok wisata tersebut ada anak yang cerdas tetapi memiliki keterbatasan biaya sekolah bisa dibantu oleh wisatawan berkualitas. 

 

Jika wisatawan berkualitas ini peduli dengan budaya dan SDM masyarakat, diharapkan akan terjadi perubahan kepemilikan dan pengelolaan sarana penunjang pariwisata di Bali. Dengan demikian usaha pariwisata yang selama ini dikuasai orang luar bisa dialihkan kembali kepada masyarakat Bali dengan cara yang lebih bermartabat.

 

Jadi, pemahaman tentang parwisata berkualitas, bukan hanya “dikonversi” dengan nilai mata uang yang dijadikan tolok ukur, atau pariwisata yang “jual mahal” alias dijual dengan harga mahal semata-mata.

 

Pemprov Bali terus berupaya memperbaiki infrastruktur seperti, jalan, pemeliharaan dan pembenahan sejumlah obyek-obyek wisata, serta pengembangan industri pariwisata yang ramah lingkungan. Itu semua dalam rangka mengembangkan industri pariwisata yang berkualitas.

Semakin berkualitas, semakin lama wisatawan akan menghabiskan waktu liburannya, akan banyak pengeluaran yang dilakukan. Ujung-ujungnya, dampaknya kita harapkan makin positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. (*)

Mon, 3 Nov 2014 @23:36

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Biografi
image

Drh.Komang Suarsana, MMA.

081353114888


Jl.Patih Nambi Gg XII No.5, Ubung Kaja, Denpasar, Bali Indonesia
Copyright © 2022 Komang Suarsana · All Rights Reserved